Minggu, 06 Februari 2022

Dampak Negatif Bermain Game Online






     Di zaman yang serba menggunakan teknologi ini, terutama menggunakan Handphone dan juga Laptop, siapa sih yang tidak mengetahui game online, apalagi anak-anak hingga Remaja. Game online adalah salah satu permainan yang dapat dimainkan dengan menggunakan akses internet. Game online berkembang sangat cepat dengan adanya animasi game 3D dan kecepatan respon lebih tinggi, memberikan sensasi lebih nyata pada pemainnya. 

    Sebenarnya bermain game online bukanlah hal yang buruk, dengan bermain game online akan dapat membuat diri kita terhibur dan juga sebagai salah satu metode refreshing ketika kita sedang merasa jenuh atau stress. Namun yang berbahaya dari game online ini adalah apabila kita sudah menjadi sangat kecanduan dengan game online tersebut, dan dapat menimbulkan banyak sekali dampak negatif, seperti:

1. Kesehatan akan menurun
    Dengan bermain game online akan menurunkan kesehatan, karena apabila orang yang sudah kecanduan bermain game online, mereka akan rela bermain hingga larut malam atau bahkan ada yang tidak tidur. Hal tersebut tentu akan membuat kesehatan menurun dan aktifivitas sehari-hari akan terganggu.
2. Menurunkan konsentrasi belajar
    Diantara dampak negatif game online bagi para pelajar adalah menurunkan konsentrasi belajar mereka. Hal ini dikarenakan game online terkadang membuat mereka kecanduan serta terus ingin bermain sehingga membuat konsentrasi belajar mereka menjadi kurang fokus.
3. Menghabiskan Uang
    Bermain game online tentu membutuhkan kuota yang lumayan banyak, dan bahkan ada beberapa jenis game online yang berbayar untuk membeli atribut di dalamnya. Hal ini tentu sangat menghabiskan uang untuk hal yang sangat tidak bermanfaat 
4. Merusak Mata
    Radiasi yang terdapat pada handphone dan laptop tentu dapat merusak mata kita apabila kita berhadapan dengan dua benda itu terlalu lama. Juga kecerahan layar dan warna warna yang berubah ubah ketika bermain game tentu dapat membuat mata kita lelah.
5. Emosi Menjadi tidak stabil    
    bermain game online seringkali membuat pemainnya lupa diri sehingga terbawa oleh apa yang mereka mainkan. Jika mereka dalam keadaan menang pasti mereka akan kegirangan dan asik sendiri. Tetapi saat kalah terkadang mereka marah-marah tidak jelas. Jadi bermain game online terutama kalau sudah kecanduan akan menentukan sekali mood seseorang tersebut. Dan lebih banyak orang yang keseringan bermain game online memiliki mood yang kurang baik terutama saat sedang bermain.

            Jika sudah kecanduan bermain game online dapat membawa banyak dampak buruk. Maka dari itu saya sangat menyarankan teman-teman sekalian agar dapat mengatasi dampak negatif dari bermain game online apabila sudah kecanduan dengan cara, mencari kegiatan kegiatan lain yang positif dan bermanfaat seperti berolahrga, buatlah jadwal dan batas maksimal bermain game dalam satu harinya agar tidak menganggu aktivitas kita yang lain dan  banyak-banyaklah berkomunikasi di dalam keluarga, lingkungan keluarga pun juga berpengaruh. jarangnya komunikasi di dalam rumah dan para penghuni rumah lebih banyak menghabiskan waktu di layar ponsel ataupun gadget membuat pelampiasan ke game online semakin besar. Simpanlah gadget atau ponsel Anda. Ajaklah anak bermain sesuai usianya. Jika anak Anda seorang remaja, cobalah tanyakan apa yang terjadi di sekolah, bagaimana lingkungan sekolah, apa saja yang dipelajari pada saat sekolah, dll. Niscaya kegiatan seperti itu adalah salah satu cara mengatasi masalah dengan orang tua sekaligus juga mengurangi si anak untuk bermain game online.


Minggu, 30 Januari 2022

  K.I.Hajar Dewantara




Hasil gambar untuk foto ki hajar dewantara Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh nasional dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia lahir di Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889. Ia dikenal sebagai seorang penulis, jurnalis, tokoh politik dan pelopor pendidikan bagi bangsa Indonesia saat zaman penjajahan Belanda. Tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ki Hajar Dewantara sendiri meninggal pada 26 April 1959 di usia yang ke 69 tahun. Salah satu semboyan yang ia buat, Tut Wuri Handayani, kemudian menjadi slogan Kemetrian Pendidikan Nasional Indonesia.




Pendidikan Ki Hajar Dewantara


Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Soewardi Soerjaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Pakualam III. Soewardi menamatkan pendidikan dasar di ELS atau Sekolah Dasar Eropa/Belanda.

Kemudian Ki Hajar melanjutkan pendidikan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Ki Hajar lalu bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar antara lain seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara.




Perjuangan Ki Hajar Dewantara


Ki Hajar Dewantara juga dikenal aktif dalam berorganisasi baik di bidang sosial atau politik. Ia aktif melakukan sosialisasi mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara, terutama setelah berdirinya Boedi Oetomo (BO) di tahun 1908.

Ia juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Ki Hajar kemudian bergabung dengan Indische Partij yang didirikan oleh Ernest Douwes Dekker (DD).

Ki Hajar Dewantara sempat mempublikasikan tulisan berjudul 'Seandainya Aku Seorang Belanda' atau judul aslinya 'Als ik een Nederlander was'. Dalam tulisan itu Ki Hajar mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang berniat merayakan kemerdekaan Belanda dari Prancis di tanah jajahannya sendiri yaitu Indonesia. Akibat tulisan tersebut, Ki Hajar Dewantara bersama dua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiganya kemudian dikenal sebagai tokoh 'Tiga Serangkai'.

Dalam pengasingan di Belanda, Ki Hajar Dewantara aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Ia bahkan mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau kantor berita Indonesia pada tahun 1913. Berdasarkan sejarah, nama tersebut merupakan penggunama istilah 'Indonesia' yang pertama kali secara formal.

Ki Hajar menempuh pendidikan tinggi hingga memperoleh Europeesche Akta, ijazah pendidikan bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Ki Hajar juga mempelajari berbagai ide dari tokoh pendidikan dari barat dan India yang menjadi landasan dalam mengembangkan sistem pendidikan Indonesia.

Tahun 1919, Ki Hajar kembali ke Indonesia dan bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia.



Semboyan Ki Hajar Dewantara


Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan Ki Hajar Dewantara dalam bahasa Jawa berbunyi :

  1. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh)
  2. Ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat) 
  3. Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)

Semboyan tersebut masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara Sebagai Bapak Pendidikan Nasional


Usai Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) dalam kabinet pertama Republik Indonesia.

Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, Ki Hajar Dewantara dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

Hari kelahiran Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Ki Hajar kemudian meninggal dunia di kota Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959. Ia dimakamkan di Taman Wijaya Brata.